Jumat, 19 September 2014

Pesan untuk Ibu



Kadang rindu rumah adalah hal yang tak tertahankan bagiku, namun ketika setiap telinga menyerap resonansi gelak tawamu begitu pula rindu itu terkonversi menjadi semangat bagiku. Aku tahu sebagai seorang yang telah ada karena jerit dan tangismu dalam persalinan kadang membuatmu letih, sedih dan kecewa. Benar. Memang kadang aku mengabaikan perjuanganmu saat egoku pecah dalam debat kusir yang kita lakukan. Kini saat aku jauh dari rumah betapa aku menyadari aku hanya ingin menjadi seorang buah hati yang menyenangkanmu dan membuatmu bangga. Rindu saat badan yang belum mandi ini “mengusel” tubuh gempalmu dengan aroma khas ibu adalah saat-saat begitu nyaman bagiku. Oh ya? Bahkan kata rindu tak mampu mewakili hasratku untuk ada di dekatmu. Ibu kini sungguh ku teramat rindu denganmu. Ibu aku ingin  saat ini ada di dekatmu, menemanimu yang terbaring lemah tak berdaya. Lekas sembuh ibu.. Oky sayang sekali dengan ibu…


Samarinda
(18-09-2014)

Minggu, 22 Juni 2014

Derai Rindu Hujan

Antara bunga yang mulai pudar
Menari beku dengan bisik gemercik
Menawar canda yang telah usang
hingar yang kian tak terdengar
hanya terbasuh melodi dentum tetes
Mengintip celah siluet sang terik
Berharap malam teduh berbau asri
Biar kan dawai hati ini bernyanyi
Melantunkan derai rindu hujan
Bagimu yang merindukanku

Petrikor membawaku melamun
meski jauh dan tak nampak
bisakah ku kirimkan pesan klasik?
Melalui awan yang terlukis damai
Saat kau memandang langit yang sama
Aku ingin menyambut dalam peluk
Berbalut desah ritme dentang waktu
Kuatkanlah harimu demiku
Berjauhan bukan berarti tak bersama
Aku disini bernaung memutar lagumu

Gaung sajak naif ini beranjak padamu
Menceritakan kita yang berpaut
Meski jarak terframe dalam gayut pikir
Biarkan puisi hujan menghibur kita
Dan marilah berkisah denganku
melantunkan derai rindu hujan bersamaku


Rabu, 21 Mei 2014

Job Seeker (1)

Akhirnya selesai juga studiku di Akuntansi UNSOED, mungkin kelegaan itu yang aku alami sesaat setelah acara yudisium selesai. Tak terasa memang studi ini mampu ku selesaikan setelah melewati berbagai upaya yang tak berarti tanpa kasih setia Allah untukku. Tetapi bukan itu yang ingin aku bagikan kali ini, tetapi babak baru yang lebih berat dan menantang yaitu sekilas tentang mencari pekerjaan. Awal kilasan ini dimulai beberapa hari setelah yudisium, saat itu aku hendak menuju kampus untuk menghadiri seminar hasil salah seorang sahabatku. Saat di tengah jalan, tiba-tiba ponselku berdering dan itu membuatku menepikan kendaraanku. Kemudian ku angkat ponselku di tengah bisingnya kendaraan, aku masih ingat itu sekitar jam 8 an pagi. Ternyata sebuah panggilan untuk interview dari salah satu hotel besar yang terkenal dengan kekhasan Indonesianya. Saat itu aku disuruh datang ke hotel yang sebenarnya baru masuk ke dalam tahap finishing di kotaku, pukul 10.00 WIB Hal yang aneh bagiku adalah aku tak merasa memasukan lamaran ke perusahaan terkait. Dan disini aku menyadari kesalahanku yaitu tidak melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusanku, walaupun hanya diberi waktu 1 jam untuk mengambil keputusan seharusnya aku tetap melibatkan Tuhan. Dan saat wawancara aku berbincang dengan Accounting Manager nya dan beberapa saat aku dipanggil untuk wawancara juga dengan Head of HRD dan langsung ditanyakan siap kerja kapan? Wah aku pikir ini kesempatanku untuk bekerja dan belajar sembari menunggu wisuda yang baru dilaksanakan 2 bulan lagi. Akhirnya aku mengambil kesempatan ini walaupun aku menyadari aku salah tidak melibatkan Tuhan. Selama bekerja aku merasa sangat tidak nyaman dengan pekerjaan ini dan entah kenapa aku merasa ini bukan panggilanku bekerja di dunia perhotelan. Aku memutuskan resign setelah 1,5 bulan bekerja tepatnya satu minggu sebelum wisuda. Belajar dari hal ini aku harus mendoakan dulu sebelum mengambil keputusan dan mencoba peka akan kehendakNya. Kemudian selang beberapa hari setelah wisuda, pemimpin rohaniku menyuruhku untuk membuat 2 keputusan yaitu apakah aku akan memimpin PA atau tidak dan apakah aku akan bekerja di dalam kota atau di luar kota. Waktu yang diberikan sangat singkat hanya 2 minggu dan aku betul ingin tidak membuat kesalahan seperti sebelumnya. Aku jujur rindu sekali untuk memimpin kelompak PA tetapi keputusan ini adalah sepaket dengan keputusan aku bekerja di dalam kota. Kenapa tidak aku ambil saja? Yah ada hal yang menjadi pertimbangan utamaku. .......bersambung

Kicau yang Parau

Terjatuh ku dalam kesalahan yang berulang
Mengecewakan dan tersesal atas diri
Bagai bunga yang tak layak dipandang
Dan anyir tercium dari celah kelopaknya
Rapuh tersapu gontai dengan muatan luka
Hingga asa tak terdengar kepaknya
Sunyi dan senyap mewarnai beku dinding harapan
Sudahlah….. Aku tak mampu mengalahkannya…

Sejenak aku berkeluh dalam hayat badan
Penuh tanda Tanya yang bergelayut dalam lumbung pikir
Apa aku bisa punya kaki sekuat karang?
Berdiri teguh menghajar derai deru ombak
Apakah bisa menjadi seperti itu?
Lihatlah kini berjalanpun aku tersandung
Kerikil kecilpun menjegalku hingga tersungkur
Betapa parau kicau yang kudendangkan ini..

Tetapi… aku teringat akan kisah juang yang tak pernah usai
Harga yang terlunas dengan begitu luar biasa
Hingga milyaran kesempatan terperi bagiku
Tanpa rekognisi akumulasi sejarah kelam
Aku harus bisa menjaga pandangan ini
Membiarkan mataku dan langkahku terpaku
Ke Arah salib yang penuh dengan anugerah
Tak peduli betapa hancur lebur diriku kini
Aku ingin tetap merangkak dan merayap menujuMu….

Oky Patria Sadewa
(Kamar 307 Wisma Pusdiklat BPK RI Kalibata, 19 Mei 2014)

Minggu, 29 Desember 2013

Alone With God (Baturaden, 28 Desember 2013)



"Perjalanan ini masih sangat jauh, masih banyak persimpangan yang mungkin menggodaku, masih banyak lubang yang mungkin menjebakku, masih banyak batu yang mungkin menyandungku, dan masih banyak hiruk-pikuk yang mungkin menjeratku. Aku pun tahu aku tidak akan pernah menggapai tempat-Mu dengan usahaku sendiri, tetapi paling tidak biarlah aku mengakhiri segala upayaku di jalan yang menuju tempat-Mu, sehingga Engkau akan melihatku, menemukanku dan menggendongku pulang ke rumah-Mu, Bapa"

Minggu, 17 November 2013

Buku Yang Baru #2 : Hei Menulislah!!

Bukan karena hilang tetapi hanya pantas berhenti
Bukan karena lelah tetapi hanya sekedar memilih
Bukan karena takut tetapi hanya melepaskan
Membiarkan serpihan sayap peri mengepak ini
Memecahkan jeruji yang terpasung indah
Bunga biru ini harus gugur untuk sebuah kuncup baru
Begitu pun sebuah buku yang kehabisan klimaks dan kata
Harus terselesai sebelum menulis dalam buku yang baru
Bukan berarti terbuang tetapi menyimpan dalam kotak kaca
Hingga kau mampu tetap memutarnya layaknya musik box
Dan hanya memutar tanpa menulis nada baru lagi
Walaupun begitu terus menulis adalah keharusan
Terjebak dalam melodi lama hanya membuat waktu menjauh
Pulas corak lalu mungkin akan terus membayang
Maka biarkanlah hanya masa memudarkannya
Menarilah dan tersenyumlah selebar yang kau bisa
Kelak rambut inipun akan memutih tanpa kita sadar
Dan tanpa sadar juga kita punya setumpuk buku spesial
Buku yang akan sangat menyenangkan untuk dibaca
Tetapi kau hanya akan punya sedikit buku bila malas menulis
Penyesalan dan kecewa harus dirasakan tetapi bukan disimpan
Lampu kota yang setia menyala saat malam membisikanku
Kalau aku harus bersinar untuk bagian yang kelam
Banyak kemungkinan cerita yang harus kau tuliskan
Banyak melodi asing yang harus kau rangkai
Maka berjalanlah dan menulislah.....


(Menulis adalah bermain piano QWERTY yang mengalunkan melodi otakku, Oky Patria Sadewa)

Buku Yang Baru #1 : Rekayasa Sederhana

Bukan hanya pelatuk hujan yang membasahiku
Tetapi bulir kerlingan cerita berdebu yang menghujamku
Lambat terpanah secerca pecahan kaca beku
Berkabung dalam bilik yang menyerua dalam angan
Andai ku bukan selalu aku yang begini
Andai aku bukan selalu aku yang terlampau
Hanya irama sonar otakku yang bergelayut
Membaca respon sensorikku yang berimajinasi
Dingin...senyap dan sedikit memar nampak
Entah diksi apa lagi yang tepat untukku berkata?
Atau pola induktif atau deduktif kah yang ku pakai?
Hanya kali ini nampak aku sangat ingin menulis
Menulis secara acak dan berkisar abstrak
Bahkan kadang aku pun tak memahaminya.
Seperti lukisan liar yang ku rangkai dalam manuskrip
Sangat liar hingga akupun tak mampu menebak arahnya
Bergeming tak ku sambut dalam ekspresi berlebih
Pikiran kananku mendominasi mempermainkanku
Mengucilkan dan menyudutkan logikaku
Menyanyikan lagu penghantar tidur agar semakin terlelap
Semakin ternyenyak dalam bongkah otak kecilku
Tergeletak manis disudut yang tak terganggu
Dan ini pola kapitalis sang melankolis biru
Aku sungguh menikmati waktu seperti ini
Hanya upaya rekayasa sederhana yang membuatku bahagia..

Jumat, 26 Juli 2013

Yesus Berjalan Di Atas Air (Matius 14:22-33)



Observasi
1.Siapa tokoh dalam perikop ini? 
Yesus dan murid-murid-Nya (ay 22) (secara khusus Petrus memiliki peran pada ayat 28-30)

2. Dimana perikop ini diceritakan
Sebuah danau yang berada di sekitar Genesaret (ay 34). Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa danau ini adalah danau Genesaret/ Galilea/ Tiberias. Lebih rincinya yaitu sekitar dua tiga mil dari  titik bertolak awal (Yoh 6:19).

3. Kapan peristiwa dalam perikop ini terjadi? 
- Setelah Yesus memberi makan lima ribu orang (Mat 14:13-21)
- Saat malam tiba (ay 23) dan lebih tepatnya jam 3 malam (ay 25 dan Mark 6: 48) dalam versi KJV+ dikatakan And in the fourth watch  artinya waktu ke-4 atau dalam bahasa Yunani kata fourth  adalah tetartos.

4. Apa yang menjadi fokus peristiwa pada perikop ini? 
Yesus berjalan (peripateo) di atas air (ay 25). 

5. Bagaimana peristiwa itu terjadi? 
- Yesus menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan mendahului-Nya (ay 22) dan orang banyak pulang juga. Dalam perikop sebelumnya "orang banyak" ini adalah orang yang telah diberi makan yaitu 5000 orang tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (ay 13-21).
- Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa (proseuchomai = berdoa dengan sungguh-sungguh) sementara perahu murid-murid-Nya sedang terombang ambing oleh angin sakal (ay 23-24). 
- Yesus berjalan di atas air dan murid-murid berteriak karena ketakutan dan Yesus berkata untuk berusaha menenangkan mereka(ay 25-27). 
- Petrus tidak yakin dan menyuruh Yesus membiarkan ia berjalan di atas air seperti Kristus, tetapi Petrus tenggelam karena bimbang oleh tiupan angindan lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya (ay 28-31). 
- Yesus naik perahu dan murid-murid menyembah-Nya (ay 32-33).

6. Mengapa Yesus berjalan di atas air?
- Karena sebelumnya Ia meyempatkan diri dahulu untuk meemiliki waktu pribadi untuk berdoa dan murid-murid telah melaut dahulu.(ay 23)
-Yesus adalah Tuhan sehingga Ia mampu berjalan di atas air (ay 28 - pengakuan Petrus)

7. Apa yang terjadi akibat peristiwa tersebut?
murid-murid-Nya menyembah (proskuneo = penyembahan atau penghormatan yang begitu sungguh dalam arti lain seperti anjing yang menjilati tuannya) Dia (ay 33)

Pertanyaan untuk pengertian
1. Mengapa Yesus menyuruh murid-Nya mendahuluiNya dan tidak menyuruh mereka menanti Yesus selesai berdoa?

2.Bagaimana Yesus tahu posisi letak perahu murid-murid-Nya di danau yang sangat luas?

3. Mengapa saat itu gelombang sangat besar sehingga permukaan air tentu akan sangat bergelombang dan berubah-ubah dengan cepat dan Yesus mampu berjalan tanpa kehilangan keseimbangan?

Interpretasi
1. Yesus mencontohkan bahwa Ia memang menyediakan waktu pribadi/ waktu yang khusus untuk bersekutu pribadi dengan Allah. Monos yaitu sendiri yang bener dalam keadaan tanpa orang lain di atas bukit. 

2. Yesus berjalan di atas air dalam kondisi ombak yang besar karena angin sakal menunjukan bahwa Yesus adalah Tuhan. Bahkan ketika murid-murid-Nya berteriak-teriak ketakutan, Ia menenangkan mereka dan menunjukan bahwa Ia adalah Tuhan yang dapat dipercayai. 

3. Karena keraguan Petrus, ia mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan cara ia ingin berjalan pula seperti Yesus dan reaksi Yesus adalah menyambutnya. Kemudian karena Petrus ragu maka ia tenggelam dan Petrus berteriak minta tolong, lalu Yesus mengulurkan tangan dan memegang tangannya. Menariknya adalah sikap Kristus yang tetap mau menolong Petrus yang notabene tidak percaya sepenuh-Nya akan Yesus sehingga Yesus menekankan akan rasa percaya Petrus pada-Nya. Menangkap suatu kondisi pengajaran bagi murid-murid secara khusus setelah secara massal (memberi makan 5000 orang) adalah suatu pola pemuridan untuk menjangkau dunia.  

Aplikasi
1. Begitu prioritasnya waktu pribadi untuk bersekutu dengan Tuhan dicontohkan oleh Yesus.

2. Rasa percaya pada Tuhan harus lebih kuat dari pada logika kewajaran yang mampu terjadi.

3. Kondisi lingkungan dapat mengoyahkan iman seperti Petrus yang tertiup angin dan bimbang.

4. Percaya bahwa Yesus adalah pribadi yang setia mengulurkan tangan dan membangunkan kita dari kegagalan-kegagalan karena rasa kurang bergantung pada-Nya.

Aplikasi Khusus
1. Benar harus memperjuangkan selalu persekutuan pribadi (Sate, BR, Syafaat, PA pribadi)

2. Berdoa agar memiliki hati yang percaya sepenuhnya bahwa Allah akan menyediakan pekerjaan yang terbaik untukku.


"Kadang ada kalanya sulit bergantung atau percaya seratus persen pada perkataan, janji dan perbuatan-Nya, tapi percayalah akan hati Kristus yang tak pernah berubah dan setia mengasihimu"

Rabu, 17 Juli 2013

Hanya Perlu dekat-Nya


Saat semua nampak kabur dan tak pasti..
Tiba persimpangan yang begitu membingungkan.
Pola yang asing dan tak dikenali.. rumit mungkin..
Tak ada remah roti sebagai penuntun labirin ini.
Nampak sama tetapi memiliki tujuan yang tak sama.
Ragu yang menguasai tak menyisakan ruang..
Tetapi satu hal saja, Hanya perlu dekat-Nya..
Maka Dia akan menunjukan jalan-Nya bagiku

Saat kita tak mampu bohongi kecewa karena keadaan.
Air mata yang tak terbendung oleh pikiran positif
Nampak tak adil dan tak pantas ku terima.
Penolakan realita bergejolak atas cerita yang terlanjur tercatat
Tak sealur mimpi dan harapku.. Sia-sia lah semua
Hancur berantakan tanpa bisa ku susun kembali..
Sangkaku adalah hanya perlu dekat-Nya..
Dan damai sejahtera-Nya akan diberikan bagiku

Saat merasa jauh dan nampak tak terpelihara oleh-Nya
Beku sepi yang menusuk tulang tanpa kehangatan
Tak ada jawaban dan tergantung dalam kebimbangan
Seperti domba yang melangkah terlampau jauh sendiri.
Tak menyadari Gembala yang tetap mengawasinya
Aku sendirian dan sunyi kelam lah temanku
Tangan-Mu nampak tak sampai menggapaiku
Haruslah ku percaya dan hanya tetap perlu dekat-Nya..
Dan lihatlah tiada pernah berubah kasih setia-Nya bagiku

Saat tersandung lalu terjatuh dan merasa tak layak.
Frustasi akan ikatan dosa yang tak kunjung lepas
Perasaan mendakwaku menjadi munafik sebagai seorang murid
Muka ini hilang dan terasa tak pantas menghadap-Nya
Janji-janji perubahan yang mudah tersapu partikel waktu
Merasa dikuliti oleh gelap yang takut akan terang
Biarkan aku tersudut dan terjebak dalam perasaan ini
"Aku tak layak Bapa... aku mengecewakan!!"
Janji-Nya mengakulah dan hanya perlu dekat-Nya
Pengampuanan yang tak terbatas oleh latar waktu ada bagiku